Education for all
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
Negara-negara PBB berkomitmen untuk Education for All (EFA) di Jomtien, Thailand(1990) dan Dakar (2000),dan Pada saat 164 negara mengadopsi 6 tujuan Pendidikan Untuk Semua (PUS), di tahun 2000,negara tersebut mendukung visi holistik pendidikan yang melingkupi pembelajaran pada tahun-tahun pertama kehidupan sampai dewasa. Dalam penerapannya, pencapaian Pendidikan Dasar Universal (PDU) yang bermutu baik dan paritas gender.
Dua dari Tujuan Pembangunan Milenium PBB ini telah mendominasi perhatian. Begitu Dekade Keaksaraan PBB diungkapkan, Laporan Pemantauan Global PUS 2006 bertujuan memperkuat tujuan keaksaraan yang terabaikan – landasan yang tidak hanya untuk mencapai PUS, tapi lebih luas lagi, untuk meraih tujuan untuk mengentaskan kemiskinan. Keaksaraan adalah landasan pembelajaran. Sementara itu,bersekolah adalah jalur utama untuk memperoleh kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Fokus utama pendidikan formal untuk anak mengabaikan kenyataan sebenarnya sebagai berikut: pertama, banyak murid DO tanpa perolehan keterampilan keaksaraan minimum, kedua, 1/5 populasi dewasadi dunia – 771 juta dewasa – hidup tanpa alat pembelajaran dasar untuk mengambil keputusan yang tepat dan berpartisipasi penuh dalam pembangunan masyarakat mereka. Perempuan membentuk mayoritas terbesar yang rentan dan anak-anak perempuan mereka berkesempatan tidak mendapat manfaat dari pendidikan. Menanggulangi tantangan keaksaraan global adalah kewajiban moral dan pembangunan yang dipentingkan oleh globalisasi yang nantinya akan meningkatkan kebutuhan keaksaraan dalam berbagai bahasa.
Karena itulah dalam makalah ini akan memabahas tentang :
1. Definisi dan tujuan dari Education For All (EFA) atau Pendidikan Untuk Semua ( PUS)
2. Sejarah Lahirnya Education For All
3. Bagaimana program ini di Indonesia
4. Upaya-upaya untuk Mengurangi Buta Aksara
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi dan Tujuan Education For All (EFA) atau Pendidikan Untuk Semua ( PUS)
Pendidikan untuk Semua adalah sebuah gerakan global yang dipimpin oleh UNESCO , yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan belajar semua anak-anak, remaja dan orang dewasa pada tahun 2015. UNESCO telah diamanatkan untuk memimpin gerakan dan mengkoordinasikan upaya-upaya internasional untuk mencapai Pendidikan untuk Semua. Sejak itu Pemerintah, badan-badan pembangunan, masyarakat sipil, organisasi non-pemerintah seperti lembaga donor multilateral dan bilateral dan media serta beberapa mitra kerja meski berpatrisipasi secara bersama-sama demi meraih tujuan ini.
Forum pendidikan dunia sepakat untuk :
- mengerahkan komitmen politik nasional dan internasional yang kuat bagi Pendidikan untuk Semua, membangun rencana aksi nasional dan meningkatkan investasi yang besar dalam pendidikan dasar;
- mempromosikan kebijakan Pendidikan untuk Semua dalam kerangka sektor yang berlanjut dan terpadu baik, yang jelas terkait dengan penghapusan kemiskinan dan strategi-strategi pembangunan;
- menjamin keikutsertaan dan peran serta masyarakat madani dalam perumusan, pelaksanaan dan pemantauan strategi-strategi untuk pembangunan pendidikan;
- mengembangkan sistem pengaturan dan manjemen pendidikan yang tanggap, partisipatori dan dapat dipertanggungjawabkan;
- memenuhi kebutuhan sistem pendidikan bagi daerah-daerah yang dilanda oleh pertikaian, bencana alam dan ketakstabilan, dan melaksanakan program-program pendidikan dengan cara-cara yang mempromosi saling pengertian, perdamaian dan toleransi, dan yang membantu mencegah kekerasan dan pertikaian;
- melaksanakan strategi-strategi terpadu untuk persamaan jender dalam pendidikan yang mengakui perlunya perubahan-perubahan sikap, nilai dan praktek;
- melaksanakan sebagai sesuatu yang mendesak à program dan tindakan pendidikan untuk memerangi wabah HIV/AIDS;
- menciptakan lingkungan sumber daya yang aman, sehat, inklusif dan adil yang kondusif bagi keunggulan dalam pembelajaran dengan tingkat-tingkat prestasi yang sudah jelas untuk semua;
- meningkatkan status, moral dan profesionalisme guru-guru;
- memanfaatkan tehnologi-tehnologi informasi dan komunikasi baru untuk membantu pencapaian tujuan-tujuan Pendidikan untuk Semua;
- secara sistematis memantau kemajuan ke arah tujuan-tujuan dan strategi-strategi Pendidikan untuk Semua pada tingkat-tingkat nasional, regional dan internasional;
- membangun di atas mekanisme yang sudah ada guna mempercepat kemajuan ke arah pendidikan untuk semua.
Tujuan PUS Dakar:
1. Meningkatkan dan memajukan pendidikan usia dini khususnya bagi anak yang rentan dan kurang beruntung.
2. Memastikan di tahun 2015 semua anak, khususnya perempuan, anak yang berada dalam keadaan sulit dan mereka yang berasal dari etnis minoritas memiliki akses dan menyelesaikan WAJAR yang bebas biaya dan bermutu baik.
3. Memastikan kebutuhan belajar semua pemuda dan dewasa dipenuhi melalui akses ke program keterampilan hidup dan pembelajaran yang tepat.
4. Mencapai kemajuan 50 % di tingkat keaksaraan dewasa di tahun 2015,khususnya bagi perempuan dan akses setara pada pendidikan dasar dan berkesinambungan untuk semua dewasa.
5. Menghapus disparitas gender pada pendidikan dasar dan menengah di tahun 2005 dan meraih kesetaraan gender di tahun 2015, dengan focus memastikan akses penuh dan setara dan pencapaian pendidikan dasar bagi perempuan.
6. Meningkatkan semua aspek mutu pendidikan dan menjamin semuanya baik sehingga hasil pembelajaran yang dapat dikenali dan diukur dapat dicapai oleh semua, khususnya dalam keaksaraan, keangkaan dan keterampilan hidup yang penting.
Tujuan Pembangunan Milenium berkaitan dengan Pendidikan
¨ Tujuan 2. Mencapai Pendidikan Dasar Universal.
Target 3. Memastikan di tahun 2015, anak-anak dimana saja, anak perempuan dan laki-laki sama saja kelak mampu menyelesaikan pendidikan/ menamatkan sekolahnya.
¨ Tujuan 3. Meningkatkan kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan.
Target 4. Menghapus disparitas gender pada pendidikan dasar dan menengah,pada tahun 2005 dan pada semua tingkat pendidikan tidak lebih dari tahun 2015.
Dasawarsa Keaksaraan PBB 2003 - 2012
Hasil yang diharapkan:
¨ Progres yang signifikan atas tujuan Dakar 2015 (3,4 dan 5) secara khusus, kenaikan yang dapat dikenali dalam jumlah mutlak mereka yang melek aksara diantara perempuan (diiringi oleh penurunan disparitas gender); di kantong luar di negeri yang dianggap angka keaksaraannya tinggi dan di negara yang kebutuhannya banyak (Sub Sahara Afrika, Asia Selatan dan negara E-9).
¨ Pencapaian tingkat penguasaan pembelajaran membaca, menulis, berhitung dan berpikir kritis,nilai kewarganegaraan positif dan keterampilan hidup lainnya oleh semua peserta didik, termasuk anak sekolah.
¨ Lingkungan melek Aksara yang dinamis, khususnya di sekolah dan masyarakat dengan kelompok prioritas, sehingga keaksaraan akan berkesinambungan dan ditingkatkan di luar Dekade Keaksaraan.
¨ Peningkatan mutu kehidupan (pengentasan kemiskinan, peningkatan pendapatan, perbaikan kesehatan, peningkatan partisipasi, kesadaran kewarganegaraan dan kepekaan gender) diantara mereka yang berpartisipasi dalam berbagaiprogram pendidikan di bawah PUS.
B. Sejarah Lahirnya Education For All
Secara rinci Sejarah Gerakan Pendidikan untuk Semua dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Gerakan ini diluncurkan pada tahun 1990 pada Konferensi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua di Jomtien , Thailand. Di sana, wakil-wakil masyarakat internasional (155 negara, serta perwakilan dari sekitar 150 organisasi) setuju untuk "universalize” pendidikan dasar dan massal mengurangi buta huruf pada akhir dekade tahun 2000.
2. 1995 – World Summit for Social Development di Copenhagen à tampak bahwa target deklarasi Pendidikan untuk Semua di Thailand tidak akan tercapai à Target penyediaan akses pendidikan dasar untuk semua diundur menjadi tahun 2015
3. 1999 – Oxfam GB meluncurkan kampanye education now à hutang negara miskin dirasakan sangat menjadi hambatan untuk berinvestasi dalam pendidikan.
4. 2000 – Forum Pendidikan Dunia di Dakar à Menguatkan kembali Deklarasi Jomtien yaitu:
¨ 2002 – perencanaan Pendidikan untuk Semua di tingkat nasional sebagai bagian dari perencanaan pendidikan nasional
¨ 2005 – mengurangi kesenjangan gender di pendidikan dasar dan menengah
¨ 2005 – memastikan bahwa semua anak, khususnya perempuan, anak berkebutuhan khusus, dan anak dari etnis minoritas, memiliki akses terhadap pendidikan yang memadai, berkualitas, dan gratis.
¨ 2015 – mencapai peningkatan 50% peningkatan melek huruf, khususnya perempuan dan akses yang memadai bagi orang dewasa untuk melanjutkan pendidikan.
¨ 2015 – mencapai kesetaraan gender dalam pendidikan
¨ 2001 – Global Campaign for Education (GCE) menggelar acara Sepekan Aksi Pendidikan untuk Semua (SPAPUS) untuk yang pertama kalinya dan sejak saat itu setiap April dilakukan SPAPUS
¨ 2002 – Konferensi Pembangunan PBB à Konferensi tidak menghasilkan ukuran yang konkret untuk menarik kembali perhatian dunia untuk mencapai target Deklarasi Dakar.
Dan pada pertemuan ini juga mereka menegaskan komitmen mereka untuk mencapai Pendidikan untuk Semua pada tahun 2015, dan mengidentifikasi enam tujuan pendidikan utama terukur yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan belajar semua anak-anak, remaja dan orang dewasa pada tahun 2015.
Enam tujuan itu adalah:
¨ Memperluas pendidikan untuk anak usia dini
¨ Menuntaskan wajib belajar untuk semua (2015)
¨ Mengembangkan proses pembelajaran/keahlian untuk orang muda dan dewasa
¨ Meningkatnya 50% orang dewasa yang melek huruf (2015), khususnya perempuan
¨ Meningkatkan mutu pendidikan
¨ Menghapuskan kesenjangan gender
Dua tujuan PUS diintegrasikan kedalam MDGs, yaitu:
è Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua pada tahun 2015
è Kesetaraan Gender dalam pendidikan
AS dan EU memberikan sejumlah dana untuk membantu pencapaian target Dakar.
5. Pertemuan Millennium à delapan Millennium Development Goals (MDGs) (New York, Sept. 2000)
¨ Menghapuskan tingkat kemiskinan dan kelaparan à Mengurangi hingga separuh dari penduduk dunia yang berpenghasilan kurang dari 1 US$ sehari dan mengalami kelaparan, dalam kurun waktu 1990 hingga 2015.
¨ Mencapai Pendidikan Dasar secara Universal à Target 2015: memastikan bahwa setiap anak laki laki dan perempuan mendapatkan dan menyelesaikan tahap pendidikan dasar.
¨ Mendorong kesetaraan gender dan memberdayakan perempuan à Mengurangi perbedaan dan diskriminasi gender dalam pendidikan dasar dan menengah terutama untuk tahun 2005 dan untuk semua tingkatan pendidikan pada tahun 2015.
¨ Mengurangi tingkat kematian anak à Mengurangi tingkat kematian anak-anak usia di bawah 5 tahun hingga dua-pertiganya selama kurun waktu 1990 hingga 2015.
¨ Meningkatkan Kesehatan Ibu à Mengurangi rasio kematian ibu hingga 75% dalam proses melahirkan, selama kurun waktu 1990 hingga 2015.
¨ Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit lainnya à Target 2015: menghentikan penyebaran HIV/AIDS dan menurunkan kejadian malaria dan penyakit berat lainnya.
¨ Menjamin keberkelanjutan lingkungan à Mengintegrasikan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan dalam kebijakan setiap negara dan program serta merehabilitasi sumber daya lingkungan yang hilang. à air bersih, sanitasi
¨ Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan à perdagangan terbuka dan sistem keuangan yang melibatkan komitmen terhadap pengaturan manajemen yang jujur dan bersih, pembangunan dan pengurangan tingkat kemiskinan secara nasional dan internasional.
C. Bagaimana program ini di Indonesia
Pemerintah Indonesia telah menyepakati: kesepakatan Education For All (Pendidikan Untuk Semua) yang menjamin setiap warga negara untuk pendidikan dasar bermutu dan gratis.Juga menyepakati Millenium Development Goals (MDGs) yang menargetkan pendidikan untuk semua tercapai pada tahun 2015.Dan Konvensi anti diskriminasi pendidikan .
Dalam upaya untu merealisasikan PUS pemerintah telah melaksanakan program keaksaraan. Dalam konteks Indonesia, keaksaraan didefinisikan sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis kalimat sederhana dalam bahasa latin atau bahasa lain serta melakukan perhitungan sederhana. Untuk mengevaluasi pelaksanaan pendidikan keaksaraan,digunakan sebuah indikator keaksaraan. Indikator ini adalah rasio individu berumur 15 tahun ke atas yang melek aksara dibandingkan dengan total populasi orang dewasa (berumur 15 tahun ke atas). Indikator lain yang digunakan adalah angka buta aksara,merujuk rasio orang yang buta aksara diantara total populasi pada kelompok umur tertentu. Angka buta aksara dapat dihitung dengan pengurangan angka melek aksara (dari 100 persen).
Pencapaian keaksaraan dievaluasi setiap tahun melalui Survey Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). SUSENAS dirancang untuk memberikan data mengenai sumberdaya manusia terutama yang terkait dengan karakteristik sosial ekonomi. Tahun 2003 survey meliputii 229.120 kepala rumah tangga di Indonesia.
Data SUSENAS mengungkapkan adanya peningkatan angka keaksaraan di Indonesia. Angka keaksaraan nasional pada populasi umur 15-24 tahun ke atas telah meningkat dari 96.2 persen tahun 1990 menjadi 98.7 persen tahun 2002. Akan tetapi, angka keaksaraan pada populasi umur 15-24 tahun menjadi stagnan tahun 1998. Stagnasi ini terkait dengan telah tingginya angka keaksaraan pada kelompok umur ini. Buta aksara yang tersisa diasumsikan adalah orang cacat atau bertempat tinggal di daerah terpencil dimana layanan pendidikan tidak tersedia. Angka keaksaraan pada kelompok pemuda meningkat sejalan dengan peningkatan peranan mereka dalam pendidikan dasar dan proporsi para pelajar yang telah menyelesaikan kelas 5 di sekolah negeri/sekolah Islam. Proporsi pelajar kelas 1 yang selanjutnya menyelesaikan pendidikan sampai kelas 5 meningkat dari 74.7 persen tahun 1991 menjadi 82.2 persen tahun 2002.
Lebih lanjut, data keaksaraan yang diperoleh dari tahun 1995, 1998, and 2002 dari SUSENAS yang telah dirinci berdasarkan kelompok pengeluaran keluarga dan tempat tinggal mengungkapkan bahwa eskipun angka keaksaraan tiap kelompok tersebut telah meningkat, tetapi pertentangan masih nyata antara wilayah perkotaan dan pedesaan, antara laki-laki dan perempuan, dan antara yang kaya dengan yang miskin.
D. Upaya-upaya untuk Mengurangi Buta Aksara
Untuk memperoleh 95 persen angka keaksaraan pada populasi umur 15 tahun ke atas pada tahun 2009, kebijakan dan strategi yang jelas penting untuk diformulasikan. Itu meliputi pendidikan nonformal yang memberikan program keaksaraan fungsional kepada orang dewasa tetapi juga pendidikan nonformal khususnya pada persekolahan formal untuk memastikan bahwa seluruh pelajar memperoleh keaksaraan yang stabil dan didukung dengan promosi perilaku belajar.
1. Kebijakan
Tanpa melewatkan berbagai kecenderungan populasi,sebuah kebijakan dibuat untuk memenuhi target. Kebijakan meliputi perolehan 95 % angka keaksaraan tahun 2009 yang berarti (1) perluasan akses pendidikan dan peningkatan pelaksanaan pendidikan keaksaraan untuk penduduk umur 15 tahun ke atas. Apalagi, pelaksanaan pendidikan dasar untuk kelompok usia sekolah akan ditingkatkan; dan (2) penyediaan akses yang sama untuk pendidikan dasar bagi seluruh orang dewasa melalui layanan pendidikan yang sama dan relevan dengan kebutuhan mereka.
2. Strategi
Kebijakan didukung oleh lima strategi utama; (1) peningkatan pelaksanaan pendidikan dasar pada kelompok usia sekolah, (2) pengurangan populasi buta aksara, (3) memberikan komunikasi, pendidikan dan informasi, (4) merubah sistem manajemen dan informasi, dan (5) meningkatkan kapasitas pengelola pendidikan, apakah di tingkat pusat, provinsi atau kabupaten/kota. Sebuah strategi untuk meningkatkan pelaksanaan pendidikan dasar pada kelompok usia sekolah adalah krusial untuk menghindari munculnya kelompok buta aksara baru. Oleh karena itu, populasi buta aksara tidak akan terus meningkat.Program yang dilaksanakan meliputi pendidikan formal dan nonformal. Strategi ini tercantum lebih rinci dalam Rencana Aksi Nasional untuk Pendidikan Dasar.
Rencana Aksi Nasional untuk Pendidikan Keaksaraan menekankan pada perluasan akses dan peningkatan pelaksanaan pendidikan keaksaraan untuk orang dewasa.
a. Pengurangan Populasi Buta Aksara
Pengurangan populasi buta aksara dapat ditempuh dengan dua jalan:
1) Perluasan akses untuk pendidikan keaksaraan melalui:
¨ Penyediaan program keaksaraan fungsional dengan target spesifik, misalnya kelompok umur, wilayah, jenis kelamin, atau pendapatan.
¨ Penentuan kebijakan nasional; seperti, program keaksaraan fungsional dapat menjadi sebuah kebijakan afirmatif untuk membasmi kemiskinan.
2) Peningkatan pelaksanaan pendidikan keaksaraan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas program, meliputi mempertahankan kompetensi keaksaraan orang yang telah memperoleh pendidikan keaksaraan. Hal ini akan diselesaikan dengan:
¨ Memformulasi program keaksaraan fungsional yang inovatif dan spesifik dengan penekanan pada aspek tiap kelompok umur, karena memberikan sebuah nilai tambahan yang signifikan. Untuk kelompok usia produktif, program keaksaraan fungsional seharusnya terkait dengan peningkatan produktivitas; oleh karena itu, buta aksara akan lebih menarik dalam suatu program gabungan. Contohnya mengenai topic fungsional tentang anak, khususnya yang terkait dengan program pendidikan anak usia dini.- Untuk usia yang lebih tua, layanan pendidikan keaksaraan seharusnya diberikan yang terkait dengan kebutuhan dan minat mereka. Proses pembelajaran dapat dibagi menjadi beberapa langkah; contohnya,langkah ertama, menulis pelajaran dengan menggunakan bahasa setempat (bahasa yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari); langkah kedua selanjutnya dapat memasukkan pengenalan Bahasa Indonesia yang terkait dengan pendidikan fungsional. Dengan lengkah-langkah ini, diharapkan orang dapat belajar lebih mudah dan bisa menerapkan pengetahuan mereka dalam kehidupan sehari-hari.
¨ Memformulasi program pendukung untuk mempertahankan kompetensi keaksaraan pelajar, dapat dilakukan dengan mengembangkan misalnya sudutsudut membaca/taman Bacaan.
b. Pemberikan Komunikasi, Pendidikan dan Informasi
Pentingnya kompetensi keaksaraan seharusnya dapat disebarkan ke seluruh kelompok masyarakat termasuk tanggungjawab untuk pendidikan itu sendiri. Bagian dari pengembangan kerjasama yang berkelanjutan dengan berbagai pihak adalah penting untuk meningkatkan pelaksanaan pendidikan keaksaraan. Aktivitas utama termasuk dalam strategi berikut ini:
¨ Mempromosikan pentingnya kompetensi keaksaraan untuk masyarakat umum dan seluruh pelaku kebijakan yang terlibat.
¨ Meningkatkan kerjasama antara sektor, masyarakat,pendidikan tinggi dan lembaga internasional, termasuk LSM. Kerjasama lintas sektoral akan dibutuhkan dalam merancang program keaksaraan fungsional; karena itu,layanan yang diberikan akan relevan dengan perbaikan produktivitas tenaga kerja di sektor terkait.
c. Merubah Sistem Manajemen Informasi
Untuk memastikan bahwa program pendidikan keaksaraan berhasil, sistem manejemen informasi seharusnya diperkuat dengan meningkatkan sistem monitoring dan evaluasi.Aktivitas meliputi:
¨ Pencatatan berbagai layanan pendidikan keaksaraan yang diberikan oleh pemerintah dan public.
¨ Penempatan layanan pendidikan keaksaraan dan pemetaan populasi buta aksara untuk memfasilitasi formulasi target program.
d. Meningkatkan Kapasitas
Kapasitas pengelola pendidikan, khususnya yang terlibat dalam pengurangan populasi buta aksara (apakah di tingkat pusat, provinsi, atau kabupaten/kota) seharusnya ditingkatkan sehingga mereka memiliki kompetensi yang cukup untuk merencanakan dan mengorganisir program pendidikan keaksaraan.
e. Pelaksanaan Kebijakan
Berbagai studi seharusnya dilaksanakan untuk meningkatkan pelaksanaan pendidikan keaksaraan dalam rangka pemenuhan kebutuhan setempat.
3. Aktivitas
Aktivitas seharusnya diselenggarakan sampai dengan tahun 2015 meliputi:
a. Pemberantasan Buta Aksara
1) Pelaksanaan program keaksaraan fungsional. Komponen yang seharusnya diberikan setiap tahun meliputi:
- materi pembelajaran untuk pelajar
- manajemen kelompok
- insentif tutor
2) Pelatihan
- merancang pedoman pelathan dan pedoman lain yang relevan;
- pelatihan untuk Master Trainer;
- perekrutan tutor.
3) Publikasi dan Pengenalan
Dengan mempertimbangkan bahwa peningkatan HDI (Human Development Index) saling berhubungan,pemberantasan buta aksara seharusnya didukung oleh seluruh pelaku kebijakan. Karena itu, penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang isu pengembangan sumberdaya manusia. Publikasi dan pengenalan telah dilakukan secara berkelanjutan melalui media.
4. Bantuan kelompok belajar
Dalam rangka mencapai target pemberantasan buta aksara, penting untuk memberikan sebuah pedoman bagi tiap kelompok belajar. Melalui aktivitas keterampilan fungsional para pelajar diharapkan dapat memelihara kompetensi mereka dan secepatnya meningkatkan standar kehidupan mereka. Aktvitas tersebut berorientasi pada organisasi dan diarahkan pada berkembangnya kelompok kerja. Aktivitas dimaksudkan untuk membantu kelompok belajar memelihara kompetensi keaksaraan mereka.
5. Pengembangan materi pembelajaran
Terkait dengan perbedaan lokasi (misalnya desa dengan kota), jenis kelamin dan fungsi materi pembelajaran, maka hal yang krusial untuk mengembangkan materi pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan pelajar,kondisi dan karakteristik. Konsekuensinya, materi pembelajaran yang telah digunakan seharusnya direvisi dan dikembangkan sesuai dengan minat dan kebutuhan maupun menguasai kecakapan dasar.
6. Monitoring dan evaluasi
Berfungsinya sebagai kontrol, monitoring dan evaluasi telah dilakukan secara berkelanjutan dalam langkah perencanaan, pelaksanaan dan tindak lanjut. Dari waktu ke waktu, monitoring dan evaluasi seharusnya dilaksanakan untuk menemukan kondisi pelajar, fasilitas pembelajaran,proses dan isi. Monitoring dan evaluasi seharusnya dilakukan secara reguler, karena memfasilitasi pemecahan
masalah dan meningkatkan program.
b. Mempertahankan kompetensi keaksaraan
Untuk mempertahankan kompetensi pelajar keaksaraan,sudut membaca (TBM) dan pusat-pusat belajar di tiap lokasi pembelajaran seharusnya ditingkatkan, juga kualitas dan kuantitasnya. Sudut membaca akan dibangun di wilayah dimana program keaksaraan fungsional (KF) berlangsung,sementara wilayah di mana sudut belajar telah tersedia, yang harus dilakukan berikut ini:
1. Penyediaan materi bacaan yang relevan dengan kebutuhan pelajar
Penyediaan materi bacaan yang relevan dimaksudkan untuk meningkatkan kompetensi keaksaraan pelajar dan keterampilan fungsional. Penyediaan dan pengembangan materi bacaan seharusnya dikumpulkan sesuai dengan topik yang akan dipelajari maupun keterampilan yang diperoleh lebih lanjut.
Pembaharuan materi bacaan, termasuk penukaran buku, artikel dan sudut bacaan lain, dimaksudkan untuk melengkapi dan meningkatkan materi bacaan. Materi bacaan mungkin diberikan oleh penyumbang. Karenanya, koleksi buku dalam Taman Bacaan akan selalu diperbaharui, dimana, ini akan memotivasi pelajar untuk menggunakan TBM tersebut. Taman bacaan seharusnya dikelola secara profesional sebagaimana fungsinya untuk mendidik. Taman Bacaan seharusnya dibangun sebagai sebuah lembaga pendidikan yang memberikan berbagai pendidikan dan aktivitas rekreasi.
2. Pelatihan pengelola TBM
Sejak pengelola TBM bertanggung jawab untuk mengelola dan menjaga TBM serta memenuhi ermintaan bacaan publik,seharusnya mereka menerima pelatihan yang akan memotivasi mereka untuk mengelola TBM. Mereka diharapkan dapat membangunkan minat orang untuk membaca. Diharapkan secepatnya budaya membaca akan tercipta.
3. Pelaksanaan kebijakan dan program
Berbagai studi dibutuhkan untuk memperolah sebuah gambar yang komprehensif mengenai progam keaksaraan fungsional pada langkah pembelajaran abadi/pembelajaran berkelanjutan. Studi tersebut dimasukkan untuk mengukur kesuksesan pelaksanaan program, mencatat kekuatan,kelemahan, tantangan dan upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan dan mengembangkan program lebih lanjut.Karenanya, program yang dilaksanakan akan bermanfaat bagi pelajar dan membantu mereka untuk meningkatkan standar kehidupan mereka.
4. Monitoring dan evaluasi
Monitoring dan evaluasi seharusnya dilakukan secara reguler, karena memfasilitasi pemecahan masalah. Aktivitas yang mendukung monitoring dan evaluasi meliputi:
- Menemukan kompetensi pelajar dan keterampilan fungsional pada langkah abadi/berkelanjutan.
- Mendukung langsung sistem personil yang berkelanjutan (PB, SKB, supervisor,tutor).
BAB III
PENUTUP
Hanya sepuluh tahun tersisa untuk mencapai tujuan-tujuan EFA. Perubahan positif telah terjadi sejak Dakar menuju UPE dan kesetaraan jender dalam level sekolah dasar,terutama di negara-negara termiskin. Pembiayaan public untuk pendidikan sebagai bagian dari GNP meningkat di kebanyakan negara-negara dan dana bantuan untuk pendidikan dasar meningkat, meskipun baru merepresentasikan 2.6% dari total dana bantuan. Meskipun begitu, kebutuhan tetaplah sangat besar di semua level pendidikan, formal dan non-formal.
Melek huruf, harus menjadi prioritas politik yang merupakan jalan pintas menuju Pendidikan untuk Semua (Education for All).Bila perhitungan langsung digunakan untuk menghitung keterampilan melek huruf, jumlah orang dewasa tanpa keterampilan atau lemah akan meningkat jauh melampaui angka perkiraan saat ini yaitu 771 juta orang dengan perhitungan konvensional. Situasi ini menunjukkan pelanggaran yang parah terhadap hak dan semua aspek dalam pembangunan.
Dekade Melek Huruf Perserikatan Bangsa-Bangsa (the United Nations Literacy Decade) adalah panggilan untuk meletakkan melek huruf-khususnya melek huruf bagi orang dewasa- dalam agenda semua orang. Hal ini mulai menjadi kenyataan, namun masih sangat jauh dari menjadi universal. Dalam tahun-tahun belakangan ini, beberapa negara-diantaranya Brazil, Burkina Faso, Indonesia,Maroko, Mozambique, Nikaragua, Ruanda, Senegal, dan Venezuela-telah setia meningkatkan perhatiannya untuk melek huruf bagi orang dewasa, selain mereka,Bangladesh, Cina, dan India, telah mencapai hasil yang mengesankan sebagaimana terlihat dari hasil upayanya pada tahun 1990an.
Komitmen politik untuk agenda yang terfokus pada hak-hak meingkatkan kualitas hidup setiap warga negara merupakan titik awal untuk menyusun kebijakan nasional yang eksplisit dalam meningkatkan melek huruf di semua level pendidikan, dengan penekanan khusus pada anakanak,pemuda, dan orang dewasa yang paling tidak beruntung. Kebijakan semacam ini harus dilandaskan oleh visi masyarakat melek huruf yang dinamis sehingga menyemangati individu untuk memiliki keterampilan melek huruf dan memanfaatkanya kemudian.
Tujuan kesetaraan jender 2005 gagal terwujud, namun sekarang adalah saatnya untuk menciptakan peningkatan serta menguatkan komitmen untuk itu dan tujuan-tujuan EFA dengan memberikan perhatian khusus terhadap isu-isu yang berkaitan dengan akses (menghapus uang sekolah), kualitas (pelatihan yang lebih baik bagi tenaga pengajar), dan lingkungan belajar (sekolah yang aman,buku untuk pelajar, inisiatif untuk kesehatan sekolah, dan pengadaptasian proram-program dewasa untuk memenuhi kebutuhan para pelajar dewasa). Koneksi yang sangat
kuat antara pendidikan oleh orang tua dengan sekolah anak lebih jauh lagi memperkuat penerapan melek huruf bagi orang dewasa sebagai prioritas di negara berkembang dan maju.
Agar komitmen-komitmen tersebut dapat terpenuhi,pendanaan publik bagi pendidikan dasar harus dilanjutkan untuk meningkatkan dan mengalokasikan efisiensi yang lebih besar, dengan perhatian khusus untuk keadilan.Melek huruf biasanya menerima hanya 1% dari budget pendidikan nasional, porsi yang harus ditingkatkan bila tujuan-tujuan melek huruf Dakar ingin dicapai, bila pemerintah-pemerintah ingin memenuhi kewajiban kebijakan public dan finansial, dan agar para pendidik untuk melek huruf dapat manjadi profesional dan berpenghasilan cukup.Donor haruslah menghormati kesepakatan mereka di Dakar.
DAFTAR PUSTAKA
Hasil Laporan Pengawasan PUS Global.
Mohon maaf, karena warna yang kurang sinkron jdi susah bacanya
BalasHapus